Sunday, April 11, 2010

JULUK ADEK

(KETIKA PEMERINTAH MENAFSIR ULANG)

FACHRUDDIN


Juluk adek, salah satu unsur dari piil pesenggiri, yang memicu perdebatan dalam Dialog Kebudayaan tahun 1988. Pada saat itu juru bicara hanya memperkenalkan sebatas praktek ‘upacara adat’ semata. Masa remaja seseorang diupacarai untuk mendapatkan nama juluk, dan pada masa dewasa mendapatkan gelar ata adek/adok, tentu dengan upacara pula. Ada semacam kelalaian yang dilakukan pada saat itu, yaitu ketidak konsisten-an narasumber. Di satu pihak mengajak seluruh masyarakat Lampung untuk menerima piil pesenggiri, tetapi tampa disadari uraian penjelasan dari piil pesenggiri justeru mempersempit peluang kelompok kelompok untuk menerimanya.

Pada saat itu makna filosofi dari juluk adek nyaris tidak tersentuh. Piil pesenggiri yang sejatinya adalah falsafah itu justeru lebih banyak dicontohkan dengan beberapa upacara daur hidup, yang upacara itu lazim diselenggarakan pada beberapa daerah daerah tertentu saja. Itulah sebabnya lantas ada salah seorang peserta yang mengatakan “ … Jangan mengaku sebagai orang Lampung, bila bejuluk tidak beadokpun tidak …” karena untuk disebut sebagai orang Lampung harus memiliki nama juluk dan nama adek, serta tidak gampang untuk menjadi orang Lampung.

Kalau juluk adek hanya diartikan sedangkal itu, maka berarti sebagian besar peserta dialog kebudayaan tidak diakui ke-Lampung-annya. Lalu mengapa pula para narsumber dan beberapa tokoh pada saat itu mengajak untuk menerima piil pesenggiri sebagai kekayaan bersama. Dan mengajak Pemerintah untuk membangun masyarakat Lampung ini dengan piil pesenggiri sebagai nilai nilai luhurnya.

Tentu saja sebuah falsafah harus dibicarakan dengan pendekatan filosofis, nilai yang terkandung dalam sebuah filsafat sebenarnya jauh lebih luas dibanding sebuah upacara ritual sekalipun. Sebenarnya silang sengketa pendapat pada saat itu dapat dihindari manakala peserta dialog diajak memahami sebuah falsafah, apalagi falsafah bersinonim ’wisdom’ yang bermakna bijaksana. Sehingga kedalaman nilai juluk adek dan piil pesenggiri tertangkap secara mendalam pula.

Itulah sebabnya Kanwil Depdikbud pada saat itu merasa berkewajiban untuk menafsirkan secara filosofis. Berfikir secara filosofis adalah berfikir secara radic atau mendalam. Ciri berfikir filosofis adalah kebebasan, selama masih menggunakan kaidah kaidah cara berfikir yang benar, serta tidak keluar dari inti kandungan nilai nilai yang selama ini dianut masyarakat. Kita harus mengurai mana adat dan mana budaya.

Silakan saja komunitas adat menyelenggarakan upacara dalam melaksanakan juluk adek. Tetapi masyarakat Lampung dalam skala yang lebih luas perlu diajak memahami secara arif akan kandungan juluk adek tersebut. Sehingga tidak perlu mempersoalkan bagiaman komunitas adat tertentu dalam menyelenggarakan upacara pengambilan nama juluk dan nama adek atau gelar keadatan. Dan juga tidak mempersoalkan komunitas yang telah meninggalkan upacara upacara semacam itu.

Tetapi juluk adek memang memiliki makna filosofis yang sangat dalam, dan sangat layak diwariskan, serta berpeluang untuk diterima oleh semua pihak. pendekatan filosofis dapat ditelusuri melalui bahasa, bukankah bahasa merupakan salah satu cabang dari filsafat, artinya dari bahasa juluk adek sangat mungkin untuk diuraikan.

Juluk adek yang terdiri dari dua kata itu. Juluk adalah nama baru yang diberikan kepada seorang anak, tetkala anak yang bersangkutan telah mampu merumuskan cita citanya. Sebagaimana kita ketahui lazimnya seorang anak yang baru dilahirkan, maka kedua orang tuanya akan bersegera memberikan sebuah nama kepada anak tersebut. Tetapi ketika anak tersebut telah mampu merumuskan cita citanya, maka anak tersebut layak diberikan nama baru, nama tersebut adalah nama juluk.

Nama juluk adalah nama untuk merayakan sebuah perubahan besar yang terjadi pada seorang anak, karena dengan kemampuan seorang anak merumuskan cita citanya maka berarti ia telah memiliki kemampuan merespon lingkungannya serta keberadaan dirinya. Dengan kemampuan merespon lingkungan itulah ia akan memposisikan dirinya. Itulah sebabnya nama juluk selalu disesuaikan dengan cita cita yang berhasil dirumuskannya.

Nama juluk merupakan simbol simbol akan keinginan seorang untuk lebih maju dan berhasil dibanding keadaan orang tua dan lingkungannya sekarang. Seorang anak layak mendapat nama juluk ’Gedung Itten” manakala ia memiliki cita cita ingin memiliki rumah besar, gedung permanen, yang bertatahkan intan berlian. Ini merupakan keinginan seorang anak yang tertangkap oleh orang tua atau orang dewasa yang memperhatikan perkembangannya.

Tetapi idealnya nama juluk adalah sebagai simbol atau peran sosial yang akan diperankan oleh sianak kelak setelah dewasa. Itulah sebabnya nama juluk juga akan diwarnai oleh konsep orang tua dan lingkungannya, dan bahkan nama jukuk itu juga lebih sebagai konsep akan diarahkan kemana kelak itu akan dididik. Dengan segala konsekuensinya yang tak akan dilepaskan dari orang tua dan lingkungannya. Jasi nama juluk pada hakekatnya adalah nama idealita, bagi sianak. Dan orang tua serta lingkungannya harus mengkondisikannya, agar sebuah idealita menjadi realita adanya.

Bagi seorang dewasa yang telah mencapai cita citanya atau mampu mewujudkan konsep yang dirumuskan oleh orang tua serta lingkungannya, maka yang bersangkutan berhak untuk mendapatkan gelar keadatan. Tetapi sekali lagi gelar keadatan itu esensinya adalah simbol keberhasilan. Yang paling penting adalah peran sosial yang mampu dilaksanakan oleh orang yang bersangkutan, baik dengan atau tampa gelar sekalipun.

Upacara keadatan seperti ’Cakak Pepadun’ tentu saja menjadi pengikat erat akan komitmen yang bersangkutan yang kini telah tercapai, yang harus dipertahankan dan bahkan masih harus dikembangkan lagi. Formalitas upacara keadatan yang dahulu terbilang sakral itu jelas memiliki sisi positif yang jelas. Terlepas dari biaya yang harus dikeluarkan.

Makna gelar atau adok menggambarkan besarnya tanggung jawab moral dan sosial seseorang terhadap lingkungannya. Dan rasa tanggung jawab moral dan sosial adalah di atas segala galanya. Dan itu juga merupakan simbol dukungan komunitas lingkungan tersebut, yang etntu saja lebih awal merasakan kemanfaatan atas kehadirannya.

Juluk adek adalah simbol keparipurnaan seseorang, itulah sebabnya Tim Kanwil Depdikbud bersikukuh meletakkannya pada puncak falsafah piil pesenggiri, bukan tiang pancang eksistensi diri. Karena tiang pancang eksistensi diri adalah nemui nyimah, dengan segala kemampuannya untuk memulai interaksi antar sesama. Simbol keparipuraan seseorang dalam piil pesenggiri, bukan berarti seseorang itu mencapai puncak lalu TurĂ­n atau berakhir, konsep itu adalah sebuh siklus.

Nemui nyimah – nengah nyappur – sakai sambaian – juluk adek, bukanlah merupakan batas batas perjalanan, tetapi adalah sebuah siklus, dan siklus siklus berikutnya adalah lebih berkualitas. Itulah sebabnya juga didapatkan titi gemeti. Sebuah tata titi, atau titian yang dapat menghantar dari satu posisi ke posisi yang lain yang semula terpisahkan oleh sesuatu. Titi ini juga berarti jan atau ijan yang akan mampu menghantarkan seseorang dari tempat yang rendak ke tempat yang lebih tinggi.

Juluk adek secara sederhana adalah nama nama baru yang diberikan ketika seseorang mencapai prestasi baru, itulah sebabnya kita memahami juluk adek sebagai sebuah inovasi. Sebuah inovasi adalah sebuah siklus. Dalam hidup manusia itu siklus adalah sesuatu yang berlangsung tampa akhir. Karena perputaran juga bermakna peralihan karena dapat dilanjutkan oleh yang lain (titi gemeti) Titi gemeti secara luas akan bermakna pembelajaran. Itulah kandungan juluk adek secara filosofis.

Tafsir filosofis adalah tafsiran tampa batas, tidak dibatasi oleh kenyataan operacional yang sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor dan keterbatasan lapangan. Tafsir filosofis akan memperkaya hazanah. Sedang tafsir berdasarkan operacional justeru membuat kandungan yang demikian luas dan mendalam menjadi dangkal. Pendangkalan piil pesenggiri adalah sesuatu yang sejatinya kita hindari.

4 comments:

  1. saya tidak setuju dengan salah seorang peserta yang mengatakan "jangan mengaku sebagai orang lampung bila bejuluk tidak dan beradokpun tidak" karna saya orang lampung tidak memiliki gelar juluk/adok tersebut.
    menurut saya orang yang mempunyai juluk/adok itu memang sudah ada dari garis keturunan.

    ReplyDelete
  2. Fentri, dia memang keluru ... orang Lampung ada dua macamnya Pepadun dan saibatin, Bagi kelompok Pepadun siapapun berpeluang untuk berjuluk dan beradok, tetapi kelompok Saibatin idak, karena bagikelompok ini kemurnian darah biru memang sangat terjaga. Itulah sebabnya ada tafdir filosofis tentang makna Juluk - Adek itu. Orang saibatin beradok atau pun tidak beradok tetapsaha sebagaiorang Lampung.
    Terima kasih atas komentarnya dan buat lagi komentar lainnya.

    ReplyDelete
  3. pak saya Muslikin

    Ini saya ingin bertanya masalah juluk adek atau pemberian gelar terhadap anak yang sudah mampu merumuskan cita-citanya, dalam upacara pemberian gelar yang tentunya tidak sedikit mengeluarkan biaya, dan yang saya tau dalam masyarakat kita khususnya Masyarakat Lampung sendiri terdiri orang yang tidak mampu, apakah untuk menjalankan upacara tersebut kita harus utang sana kemari bila kita tidak ada dana sama sekali? dan terus nama awal pada saat kita d lahirkan itu di kemanakan? bukankah itu merupakan pemborosan atau sesuatu hal yang berlebihan? dan dalam agama islam sendri membenci perbuatan yang berlebihan
    mungkin itu pertanyaan dari saya pak terima kasih

    ReplyDelete
  4. Secara filosofis bukanlah juluknya dan bukan pula adoknya yang harus dikejar, yang harus dikejar dalam falsafah ini adalah prestasi prestasi baru yang harus dicapai. tercapai prestasi yang satu maka kejar lagi prestasi yang lain. Setalah terkejar maka kejar lagi prestasi baru lainnya, sehingga hidup itu penuh dengan prestasi, bukan Juklukdan Adok yang kosong. Tetapi memang ada dalam sjarah hidupnya, yaitu prestasi/

    ReplyDelete