Friday, July 20, 2012

Eksistensi Piil Pesenggiri Dalam Naskah Tulisan


Lounching buku Mamak Kenut orang Lampung Punya Celoteh karya Udo Z. Karzi beberapa hari yang lalu berhasil menambah deretan jumlah karya tulis dari penulis daerah Lampung. Dari judulnya akan memberikan harapan kepada kita semua bahwa isi tulisan ini akan mengaitkan pemikiran penulis kepada berbagai hal yang ditinjaunya dari sudut tertentu melalui tokoh yang menjadi judul buku itu, yaitu Mamak Kenut.

Bagi masyarakat Lampung pesisir khususnya khususnya Lampung Barat dan tanggamus serta beberapa daerah lainnya, yaitu Pagelaran, Kalirejo dan Tangkitserdang serta Tulungitik Metro dan beberapa wilayah tertentu yang ditempati pindahan yang berasal dari Lampung Barat, bagi mereka Mamak Kenut adalah tokoh yang tidak asing lagi. Mamak kenut adalah tokoh hayal yang kontroversial, karena Mamak kenut adalah tokoh yang bisa bicara apa saja termasuk yang tak lazim dibicarakan oleh orang lain.

Walaupun Udo Z.Karzi belum sepenuhnya mengeksploitir kenakalan dan celotehan Mamak Kenut, tetapi setidaknya Udo Z. Karzi telah membuka pintu gerbang bagi penulis lain atau karya Udo Z. Karzi sendiri kedepan. Penulis bisa menambahkan beberapa tokoh yang menjadi teman teman Mamak Kenut untuk mengemban karakter karakter tertentu baik sejalan, atau bertentangan yang intinya adalah mendukung kenakalan pemikiran Mamak Kenut. Untuk mengeksploitir kenakalan dan keisengan serta kebodohan Mamak Kenut penulis bisa memisahkan mana pemikiran mamak kenut dan mana pula pemikiran si penulis aslinya.

kepada para penulis saya berharap agar siappun tokoh yang ditampilkannya, terlebih tokoh itu Mamak Kenut, maka sang tokoh sebenarnya memiliki kemampuan untuk mengusung dan mengembangkan falsafah " Piil Pesenggiri " dengan unsur unsurnya yang tak asing lagi yaitu nemui nyimah (produktif), nengah nyappur (kompetitif), sakai sambaian (kooperatif) dan juluk adek (inovatif). Sehingga karya tulis kitapun layak disebut sebagai pengembangan budaya Lampung.

Nilai nilai yang diemban oleh piil pesenggiri sebenarnya nampak jelas, nilai nilai itu bukan nilai masa lalu yang tinggal kenangan, tetapi memiliki bobot kekinian. Lihat saja unsur unsurnya yang sangat kontemporer.

Nilai nilai Piil Pesenggiri itu sesungguhnya adalah nilai nilai yang akan dikembangkan atas kesepakatan Lampung, Banten, Cirebon dan Demak yang berencana untuk mendiriksn Kesultanan Islam yang modern di Lampung, yang akan menggabungkan karakter Sumatera yang egaliter dengan karakter jawa yang telah teruji memiliki kemampuan mempertahan kekuasaan. Sayang niat mendirikan Kesultanan Islam di lampung yang diawali dengan perkawinan Sultan Cirebon dengan Putri Sinar Alam dari Keratuan Pugung itu juga gagal mendirikan Kesultanan Islam, akibat berbagai hal tentunya.

Terlepas dari kegagalan itu, maka nilai nilai Piil Pesenggiri adalah merupakan nilai nilai yang harus kita pertahankan, dan bahkan harus kita kembangluaskan, kepada masyarakat luas khususnya generasi penerus kita. Penulisan naskah opini seperti yang dilakukan oleh Udo Z. Karzi dengan menampilkan Mamak Kenut sebagai tokoh utamanya dalam penulisan naskah itu sebenarnya memiliki peluang mengusung nilai nilai piil pesenggiri itu.

Apalagi Udo Z. Karzi memang terlahir dari komunitas pendukung budaya Lampung, beliau dilahirkan di Negarabatin Liwa lampung Barat, dan aktivitas beliau sebagai jurnalis, yang kesehariannya akrab dengan pemikiran dan penulisan, serta tersedianya media yang siap untuk mempublikasikannnya.

Kiranya pantas saya mengucapkan salut kepada Udo Z. Karzi seraya mendoakan agar beliau lebih produktif lagi, dan menitip secercah harapan agar beliau berkenan menuliskan para tokoh semisal Mamak Kenut untuk mengusung Piil Pesenggiri yang memiliki nilai nilai yang modern itu. Semoga (Fachruddin)

2 comments:

  1. Tabik,

    Dalam beberapa kali tulisan Abang Fachrudin di blog Abang, saya menyimak harapan-harapan Abang tentang pengembangan kebudayaan Lampung, terutama terkait falsafah Piil Pesenggiri dalam tulisan-tulisan saya.

    Tapi -- saya mohon maaf -- saya agaknya bukan orang yang tepat untuk memenuhi harapan Abang. Saya relatif memiliki perspektif yang berbeda tentang bagaimana kebudayaan Lampung.

    Terkait dengan piil pesenggiri, dengan segala hormat saya ingin katakan, "Saya bukanlah penghayat Piil Pesenggiri." Apalagi seperti yang Abang katakan dalam tulisan di atas: "Nilai nilai Piil Pesenggiri itu sesungguhnya adalah nilai nilai yang akan dikembangkan atas kesepakatan Lampung, Banten, Cirebon dan Demak yang berencana untuk mendiriksn Kesultanan Islam yang modern di Lampung, yang akan menggabungkan karakter Sumatera yang egaliter dengan karakter jawa yang telah teruji memiliki kemampuan mempertahan kekuasaan. Sayang niat mendirikan Kesultanan Islam di lampung gagal akibat berbagai hal tentunya."

    Dalam keadaan hal demikian, saya cenderung bersepakat dengan (alm) Firdaus Augustian yang mengatakan, piil pesenggiri sebagai puzzle.

    Saya tidak habis pikir kenapa harus menyinggung-nyinggung piil pesenggiri dalam menulis dan berbicara. Kebudayaan Lampung toh saya pikir tidak hanya piil pesenggiri.

    Mohon maaf kalau tanggapan saya ini kurang berkenan.

    ReplyDelete
  2. Tidak masalah bila Udo Z karzie kurang berminat dengan Piil Pesenggiri, atau bahkan menganggap Piil Pesenggiri hanya sebagau puzzle (mainan anak balita). Itu bedanya dengan saya yang melihat adanya sedikit sinar yang sebenarnya dapat dieksploitir untuk pencerahan dalam pengembangan budaya Lampung.
    Kita harus mensykuri adanya perbedaan kecendrungan kita masing masing yang memiliki perhatian dalam kebudayaan Lampung. Perbedaan ini saya yakini akan sangat menguntungkan bagi perkembangan hazanah kebudayaan lampung itu sendiri. asalkan masing masing yang berbeda itu dapat saling menghidupkan, bukan saling mengkritisi sampai mematikan. Pada masa masa mendatang saya banyak berharap akan bermunculan mereka mereka yang memiliki perhatian untuk mengembangkan budaya Lampung ini, dan saya berkeyakinan apa yang kita tuliskan pada masa sekarang sedikit banyaknya akan bermanfaat bagi mereka yang akan datang.
    kepada udo Z. karzi saya ucapkan selamat berkarya, manfaatkanlah usia muda untuk berkarya, karena diusia saya sekarang banyak sekali hambatannyha. Sukses untuk anda.

    ReplyDelete