Tuesday, April 17, 2018

MEWARISI SEMANGAT PIIL PESENGGIRI (2)

HIDUP DENGAN HARAPAN.

Mengetahui latarbelakang pendidikan Ayahanda M Dani yang merupakan alumni atau setidaknya bertahun tahun nyantri di Padang maka saya menjadi sangat mafhum mengapa Beliau memilih Ibunda saya almarhumah Siti Aisyiah sebagai pendamping hidupnya. Dari penuturan Ibunda, yang kami biasa memanggilnya Emak dan Tamong panggilan cucunyha yang perempuan serta Ajjong bagi cucunya yang laki laki, tetapi setelah lahirnya Yusran yaitu putera pertama dari Kakanda Tarmizi, beliau dipanggil cucuinya dengan sebutan Andung, sebutan Andung itu sangat lazim digunakan di daerah kelahiran Ibunda, yaitu Kembahang, Andung juga lazim digunakan di daerah Liwa dan kerui, bahkan sampai Bengkulu.

Andung yang bernama Siti Aisyiah itu adalah puteri seorang da'i yang cukup kesohor, Ibunda sering ceritera akan kerinduannya terhadap sejumlah makanan yang memang langka, kata beliau setiap kali Datuk pulang dari Besurah di darah jauh, disebut besurah karena aktivitasnya banyak membacakan Surat Surat Al-Quran, beliau biasa membawa oleh oleh anekaragam makanan yang terbilang langka dan mewah. Cerita andung oleh olehnya antara lain, susu manis, leci, sardemcis, biskuit, aneka permen dan banyak lagi yang lain, ceritera beliau, itu bukan dapat beli, tetapi oleh oleh hadiah dari jama'ah yang dikunjungi.

Bila teringat hal tersebut di atas, saya bisa membayangkan kerinduan almuarhumah Andung akan kesenangan itu, saya meneteskan air mara karena itu diceriterakannya pada tahun tahun sulit, menjelang pecahnya pemberontakan G 30 S PKI. Zaman itu zaman sulit,kamimengalami paceklik, stok beras kami menipis, belum dapat menanam padi karena kemarau terliwat panjang, jualan beraspun tak ada dipasaran. Pada saat demikian susah itulah, ceritera itu dicetuskan bahkan sampai bebera kali ulangan. Bapa kamu ingin salah satu anaknya menjadi penceramah terkenal seperti datuk kamu Almarhum. Terus terang saya pada saat itu masih belum paham atas pesan itu berat itu. Tahun 1963 saya masih duduk di kelas 3 Sekolah Rakyat, sayamasih ingat guru saya di SR Pagelaran itu namanya  Djauhari.

Tidak terlalu saya hiraukan tentang Datuk dari Ibu yang sebagai pesurah, atau memiliki pekerjaan membacakan ayat ayat Al-Quran, dan harapan Bapak saya untuk menjadi seorang penceramah, tetapi janji Ibu saya untuk disekolahkan di Tanjungkarang, adalah sesuatu yang selalu saya nanti nantikan. Pada saat itu yang terbayang di otak saya, saya pintar berbahasa Indonesia, dan hapal lagu lagu anak anak dan lagu orang dewasa, karena beberapa kali saya menyaksikan anak Tanjungkarang yang pintar bicara dan pintar menyanyi. Itu saja. Sedang  saran untuk bisa beli sendiri beberapa makanan lezat dan mahal itu tak terlalu memepengaruhi pikiran saya pada saat itu.

Dengan kemampuan yang sangat terbatas,maka berangkatlah sekolah ke Tanjungkarang, atas dorongan seorang Andung, perempuan renta yang nyaris tak punya apa apa, melainkan secuil asa, secuil harapan dari seorang Andung yang juga tak banyak memiliki kemampuan untuk merumuskan sebuah pemikiran yang utuh. Sekali lagi hanya asa atau harapan, yang benar benar membara,dan pernah padam di hatinya.  Itulah sebabnya seseorang tak boleh merasa putus asa, atau putus harapan. Walaupun hanya sebuah asa yang kecil, harapan yang kecil yang tertanama di dada seorang tua, Tetapi dia punya doa yang tinggi dan besar, yang dibacanya pagia, siang sore dan malam.

Maka akhirnya selesai  juga sekolah ini, selesai juga S1 dan selesai juga S2. Hidup itu adalah karena kita masih memiliki harapan, tetkala harapan itu sirna, dan apalagi doapun terputus, maka sesungguhnya kita telah mati. Itu yang kudapat dari Andung. Harapan dan doa, lalu bekerja semampunya, tetapi tak pernah berhenti bekerja.

No comments:

Post a Comment