Tuesday, October 2, 2012

Menafsir Ulang "Pantun Azimat"

Pantun Azimat.


“Paksi Pak geralni
Sinno asli ni Lampung
Ngejual mak ngebeli
Dilom adat ni Lampung”

“Pisan simbayang tinggal
tempanjin di neraka
pissan saibatin tisakkal
hak lebon suaka mena”

“Khiah-khiah kik dawah
kekunang kik debingi
kik Sai Batin merittah
tisangsat ram kikpak mati

Terjemahannya.

Paksi Pak namanya
asalnya orang Lampung
berjual pantang beli
di situ adat dijunjung

Sekali solat tertinggal
badan matang dineraka
sekali raja disangkal
alamat badan sengsara

Hiruk pikuk dikala siang
senyap kunang di gulita
patuhi raja, jangan nentang
setiakan nyawa taruhannya.

Penafsiran ulang terhadap pantun azimat yang tersebar luas di lingkungan komunitas Paksi Pak Skala Berak ini sangat penting artinya bagi penyelematan terhadap gengsi kepaksian itu sendiri. Bagi saya pantun ini tidak mengejutkan, karena saya sudah lama mendengar pantun itu dituturkan dari seseorang. Sekalipun pantun itu disebut azimat, tetapi dahulu pantun itu lebih merupakan maklumat, keharusan kepada setiap komunitas untuk mematuhi kekuasaan kepaksian. walaupun pantun itu sendiri tersusun setelah masuknya agama Islam, tetapi para loyalis menekankan ruh kekuasaan tak terbatas kedalam pantun, yang sesungguhnya memiliki perbedaan yang diametral. Untuk itu perlu kiranya kita memberikan tafsiran ulang, sehingga pantun ini semakin bermakna dan kepaksian terselamatkan olehnya.

Setelah Islam masuk lampung konten piil pesenggiripun berubah menjadi Nemui nyimah (produktif). nengah nyappur (kompetitif), sakai sambaian (koperatif) dan juluk adek (inovatif). Memberikan tafsir piil pesenggiri sebagai falsafah masyarakat Lampung kepada pantun ini akan membuat pantun ini semakin memiliki nilai nilai prospektif bagi masyarakat pendukung adat kebuayan.

Ngejual mak ngebeli, dilom adat ni Lampung. Berjual pantang membeli, itulah lampung. Masyarakat diharapkan memiliki kemampuan memproduksi sesuatu jauh melebihi kebutuhan diri dan kebutuhan orang lain yang berada di bawah tanggung jawabnya. maksudnya adalah bahwa bagi seorang petani, hendaklah berpantang membeli hasil pertanian untuk sekedar memenuhi kebutuhannya. Jangan mengaku sebagai orang tani bila beras saja untuk makan sehari hari terpaksa membeli, demikian juga sayur mayur dan bermacam macam bumbu. Jadilah seorang petani yang memiliki etos kerja yang tinggi, serta mampu menghasilkan panenan yang melimpah, sehingga dapat dijual untuk keperluan hidup lainnya.


Pissan saibatin tisakkal, hak lebon suaka mena. Sekali raja disangkal, alamat badan sengsaraja untuk meningkatkan etos kerja guna menciptakan kesejahteraan bersama adalah sebuah keniscayaan. manakala masyarakat tidak memperhatikan titah yang satu ini maka ancamannya bukan hanya bagi yang bersangkutan, melainkan bagi masyarakat semua. masyarakat petani diharapkan benar benar memanfaatkan musim musim yang memberikan ketersediaan untuk bercocok tanam harus dimanfaatkan sebaik mungkin sebelum datangnya musim kemarau panjang, sehingga lahan perkebunan tak produktif.


Kik Sai Batin merittah, tisangsat ram kikpak mati. Patuhi raja jangan nentang, setiakan nyawa tauhannya. bait ini sebenarnya ditujukan kepada para ulama untuk memfatwakan bahwa perintah raja untuk meningkatkan kesejahteraan bersama adalah adalah wajib hukumnya, bahkan bekerja untuk kepentingan bersama dan masyarakat luas adalah bernilai jihad. Dan bila kita mati dalam berjihad, maka surgalah taruhannya.

Pernah para loyalis kebuayan ini berulah kurang terpuji, yaitu membelokkan pengertian dari pantun yang tersamar ini untuk melakukan hal hal yang kurang terpuji, seperti pengambilan paksa dan bahkan pengrusakan dan lain sebagainya untuk memberikan tekanan kepada masyarakat. Pantun azimat ini dijadikan alat pembenaran terhadap berbagai prilaku yang kurang perintah pengamanan dari pimpinan kepaksian nampaknya dimanfaatkan untuk mencari keuntungan. dan pantun azimat ini benar benar mereka jadikan azimat untuk melakukan sesuatu yang tidak dibenarkan hukum.

Untung hal ini tidak berlangsung lama, lantaran para santri yang semula melakukan kegiatan politik dan kurang disenangi Belanda itu secara diam diam melakukan eksodus ditewngah malam buta bersama keluarga besarnya. Sehingga para penggawa ini tidak lagi memiliki alasan untuk berulah yang merugikan masyarakat banyak. Tafsir keliru yang dengan sengaja dihembus hembus untuk mengambil keuntungan itupun segera berakhir. Ketika pantun ini dimunculkan kembali maka perlu rasanya memberikan tafsir ulang.


No comments:

Post a Comment