Tuesday, January 29, 2013

Nyambuk Temui Mengacu pada Piil Pesenggiri.

Gambar Foto Ilustrasi

Oleh FACHRUDDIN

Nyambuk temui (menyambut tamu) adalah wujud dari praktek falsafah ‘Piil Pesenggiri’ dalam kehidupan bermasyarakat bagi komunitas Lampung. Naymbuk temui adalah prosesi kedatangan suatu kelompok masyarakat untuk mendatangi kediaman atau batas wilayah kedaulatan orang lain termasuk kesaulatan para sahabat . Kini nyambuk temui dilakukan dalam upacara adat yang memiliki lambang saling menghargai kedaulatan adat masing masing, upacara ini dimaksudkan sebagai penghargaan bagi mereka yang akan mendatangi keluarga yang menyelenggarakan perhelatan (gawi : Lampung) besar yang ditandai dengan berberapa upacaea keadatan.

Bila dahulu acara sambuk temui ini bisa jadi benar benar dimaksudkan sebagai penyeleksi para tamu, siapakah sebenarnya identitas para tamu yang ingin masuk, apakah mereka benar benar sebagai para terundang dalam perhelatan acara besar itu.. Bila ternyata benar benar sebagai pihak terundang, maka kedatangan mereka disambut dengan upacara kebesaran, dikawal dengan segala kehormatan untuk memasuki tempat yang disediakan bagi para tamu terhormat.

Tetapi bagi mereka yang ternyata pendatang gelap yang diragukan niat baik atas kedatangannya itu, maka pemilik hajat memang telah menyiapkan beberapa orang yang memiliki keterampilan ulah kanuragan yang benar benar pilih tanding. Ini masih digambarkan dalam kalimat sambuk temui, pada upacara sambuk temui yang hingga sekarang tetap diselenggarakan dengan penuh lambang dan makna.

Tetapi sejalan dengan perubahan zaman, tentu saja kalimat kalimat yang diucapkan pada upacara sambuk temui itu telah mengalami beberapa kali perubahan, baik disadari maupun tidak, baik sengaja maupun tidak disengaja, karena dalam prakteknya, subjektivitas para pelaku upcara cukup menonjol, dan bahkan banyak kalimat kalimat yang diucapkan para pelaku upacara itu dibiarkan lalu begitu saja, karena mereka meyakini bahwa ini adalah upacara seremonial, yang dibeberapa detik mendatang rombongan pasti akan dipersilakan masuk ke ruang kehormatan..

Tetapi pada suatu saat akan datang para peneliti dari luar yang akan mengambil gambar dari upacara yang benar benar terbuka itu, mereka akan merekam selengkapnya adegan dan peristiwa, kata demi kata, peneliti akan mencatat penuturan kata kata para pelaku upacara, para peneliti juga akan menterjemahkan kata demi kata hingga kalimat demi kelaimat, yang manakala apa yang dituturkan oleh para pelaku upacara itu tidak selalu dalam control, para pemangku adapt lainnya, bukan tidak mungkin ini akan menjadi boomerang yang kurang menyenangkan. Bukan tidak mungkin akan ada penilaian miring dari peneliti luar, bukan pendukung adat, tentang tingkat peradaban adat istiadat Lampung .

Pada saat ini yang sering lepas dari control adalah ketika sang jurubicara memperkenalkan karakter balo balo. Balo balo adalah sosok seseorang ahli kanuragan dan petarung yang digambarkan kurang memiliki pengetahuan dan wawasan, namun memiliki kedigdayaan yang sangat tinggi, tidak ada rasa segan dan takut baik terhadap manusia maupun binatang buas untuk bertarung sekedar mengisi waktu. Sayang para jurubicara sering seperti ingin mengatakan bahwa jangankan kepada manusia, kepada Tuhanpun yang tak segan melawan, tetapi sangat setia kepada Stan yang melindunginya. Walaupun dalam memperkenalkan balo balo ini pada umumnya dipilihkan kata kata yang lucu yang mengundang tawa, tetapi inti kata janganlah terlepas dari kontek falsafah piil pesenggiri.

Piil pesenggiri yang terdiri dari Nemui nyimah (produktif), Nengah nyappur (kompetitif), Sakai sambaian (kooperatif) dan Juluk adek (inovatif). Apalagi upacara sambuk temui secara keseluruhan adalah merupakan wujud dari pendidikan piil pesenggiri khususnya Nemui nyimah, maka sewajarnyalah bila kita berharap memperkenalkan balo balopun tidak terlepas dari konteks Piil Pesenggiri pula.