Wednesday, March 19, 2014

Orang Sekayu Bangga Bahasa Daerah

Luar Biasa, kebanggaan masyarakat Sekayu Kabupaten Musi Banyuasin Sumsel, dengan kebanggaan atas bahasa daerah mereka. Bahasa daerah saya dengar langsung digunakan dalam bertegur sapa di Bank, Kantor Pos dan apalagi ditempat yang saya kunjungi selama hampir dua bulan ini, Dan diberbagai tempat lainnya tegur sapa dngan menggunakan bahasa Sekayu adalah keniscayaan tampaknya.Setelah sejenak menggunakan bahasa Nasional, maka bahasa daerah Sekayupun segera terdengar, sepertinya  setiap pertemuan dengan orang luar sekalipun maka seatyu keharusan untuk memperdengarkan bahasa Sekayu

Bahasa dan dialek Sekayu nampaknya adalah sesuatu yang harus diperdengarkan kepada tamu dari manapun, belum lengkap rasanya bila hanya menyuguhkan pengamanan dan minuman kepada para tamu sebelum menyuguhkan juga bahasa Sekayu kepada para tamu.
Tunggu sebenatr, duduklah Bapak di sika ..... kata seorang karyawan Bank yang cantik itu dalam bahasa Sekayu. Selanjutnya dalam berkomunikasi dengan saya selanjutnya Ia tetap menggunakan bahasa Sekayu, sepertinya Ia sangat yakin bahwa saya memahami dengan apa yang dia maksudkan sekalipun dengan menggunakan bahasa Sekayu. 

Memang sebagai bahasa melayu, bahasa daerah Sekayu mudah dipahami oleh warga Indonesia berasal dari manapun. Dan karena demikian fanatiknya masyarakat Sekayu dengan bahasa daerah mereka, maka orang pendatangpun sepertinya untuk menggunakan bahasa Sekayu itu adalah suatu keharusan. Ada seorang Pengawas Dikmen di Dinas Pendidikan Kabupaten Sekayu, beliau adalah Pak Joko, asal Jawa Timur, yang ketika saya ajak bicara dengan bahasa Jawa, justeru dijawab dengan bahasa Sekayu. padahal saya menggunakan bahasa Jawa dengan dialek Jawa Tmur sebisa mungkin, tetapi nampaknya Pak Joko tidak tertarik untuk berinduria dengan daerah Asalnya. Memang sehari hari Pak Joko di rumahnya berbahasa Sekayu, jika tidak salah simak isteri Pak Joko memang Orang Sekayu.
Orang Sekayu tidak segan segan untuk berbahasa Sekayu kepada tamu yang berasal dari manapun. Bisa berbahasa Indonesia, maka pasti bisa bahasa Sekayu kata Pak Muhammad Husen sebagai Korwas di Sekayu. Bahasa Sekayu memang lebih kental Melayunya dibanding Kabupaten yang lain di Sumsel, memang ada beberapa kata yang diucapkan mirip bahasa Betawil seperti kate, siape, berape, mane, " E " dalam bahasa Sekayu itu diucapokan seperti logat betawi, walaupun ada juga yang meleset jauh, yaitu " suwe " dalam bahasa Sekayu yang artinya Habis.

Pernah tamu saya dari Jakarta dia mengeluhkan bahwa Bandar Lampung kok seperti Jakarta ya ? Katanya terheran heran ..., , lalu saya menanyakan apa maksudnya. Ternyata yang dimaksudkan bahwa telah tiga hari dia berada di Bandar Lampung, tetapi belum sekalipun dia mendengar orang orang yang menggunakan bahasa Lampung. Suasana itu berbeda dengan di Sekayu, cukup menggunakan dua atau tiga kalimat kita menggunakan bahasa Nasional, setelah mereka yakin kita terampil berbahasa Nasional maka masyarakat Sekayu tak segan segan berbahasa Sekayu kepada kita sebagai pendatang di daerah itu.

Sunday, February 9, 2014

Serasan Sekate Untuk Membangun Musi Banyuasin

Bukan sekedar puluhan, tetapi mencapai ratusan dan bahkan milyaran  dan mungkin Trilyunan rupiah telah dikeluarkan untuk membayar konsultan hanya sekedar untuk mensinkronkan antara kata dengan perbuatan. Itu yang ditulis dan itu yang diperbuat, itu yang dioperbuat, itu juga yang di tulis. Berbeda halnya dengan masyarakat Musi Banyuasin, mereka telah lama mempraktekkan kesesuaian antara kata dengan laku, "Serasa Sekate" itulah semboyan dalam membangun Kabupaten Musi Banyuasin.

"Filosofi Sekate Serasan" pasti telah teru,uskan ratusan tauhin yang lalu, ketika komunitas ini belum seramai sekarang, artinya komitmen sekate serasan teleh berhasil membuat komunitas masyarakat sekayu dan sekitarnya hingga  mempertahankan eksistensinya, Keberadaan komunitas masyarakat ini berhasil dipertahankan berkat keteguhan komunitas ini berpegang kepada Serasan Sekate.

Tidajk kurang sari sebuah tugu yang didirikan, sebuah tugu yang tegak lurus yang melambangkan keteguhan satunya antara kata dan laku. Tugu itu berdiri untuk memperingatkan kepada seluruh masyarakat untuk bukan sekedar menjaga dan komitmen dengan filosofi ini, tetapi yang lebih penting menanamkannya kepada generasi muda, 

Sudah sangat banyak keberhasilan yang dicapai dengan mempersatukan antara kata dengan laku yang berhasil membentuk kebersamaan, dan sudah sangat banyak kerusakan dan kerugian kita lainnya diakibatkan oleh ketidakserasian antara kata dan laku sehingga kehilangan rasa dan semangat kebersamaan, oleh karenanya maka masyarakat Musi banyuasin brtekat untuk tetap mempertahankan kebesamaan dengan cara mempererat "Sekate Serasan"




Saturday, February 8, 2014

Sebiduk Sehaluan di OKU Timur.



Kota martapura sebagai Ibukota Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur yang kita kenal sebagai Kabupaten yang dilintasi banyak sungai, dari satu tempat untuk menuju tempat yang lainharus melintasi sungai, dan istimewanya sungai yang harus diseberangi itu sering bukan hanya sat, banyak diantara mereka untuk menuju ke ladang atau kebun mereka tidak cukup sekali penyeberangan. Tetkala daerah itu belum memiliki kesanggupan untuk membuat jembatan yang representatif, makamereka menggunakan biduk atau perahu sebagai alat sarana penyeberangannya.
Berbagai perbedaan serta keanekaragaman lainnya ditempat lain ternyata mampu mereka persatukan di dalam biduk.

Biduk menjadi sesuatu yang sangat istimewa dalam membentuk tata kehidupan mereka untuk semakin teratur. Dan istimewanya lagi sudah demikian banyak perselisihan perselisihan diantara merekaserta banyak persoalan besar lainnya yang justeru dapat mereka selesaikan di atas biduk yang relatif kecil itu. T idak jarang pada saat mereka duduk di atas bidukl kecil dan dalam waktu yang tidak lama itu banhak mereka yang memutuskan sesuatu yang besar dan membulatkan gagasan gagasan besar lainnya. Sungguh biduk sejatinya merupakan sesuatu yang tak terpisahkan dari aktivitas dan pemikiran masyarakat OKU Timur, dan itu pulalah yang menyebabkan kata 'biduk' mereka pentingkan  agar tertulis di lamabang Kabupaten ini.

"Filosofi biduk"  inilah yang membuat masyarakat setempat mampu bekerjasama dan bahu membahu dalam mengupayakan OKU Timur membuat Kabupaten baru, memisahkan diri dari Kabupaten induk
nya, kitapun dapat membayangkan demikian besarnya tenaga dan biaya yang mereka keluarkan secara pribadi. Jelas semangat yang mereka miliki adalah semangat kebersamaan dalam filosofi berbiduk. Dalam berbiduk tentu dia tidak akan membawa barang terlampau berat manakala biduk yang akan digunakan kecil ukurannya. Setelah naik ke atas biduk mereka mempersilakan kepada yang lebih tua untuk memilih di mana mereka ingin duduk. Di atas biduk mereka sangat menjaga unggah ungguhnya, jangankan gerakan gerakan yang dapat membuat prahu oleng yang harus mereka hindari, berfikir kotorpun mereka harus hindari karena tidak jarang bermula dari pikiran yang tak terpuji dan apalagi berbicara tak sopan dan menjijikan, mereka sering mendapat musibah lantaran ulah yang mereka remehkan itu.

Filosofi biduk sungguh telah memberi pelajaran bagi masyarakat OKU Timur  sehingga kehidupan mereka terpola, mereka umumnya adalah pekerja keras, yang terbukti dari kesejahteraan yang nampak kentara walau hanya sekilas kita memandang. Tarok kata PAD relatif rendah tetapi ternyata masyarakatnya sejahtera, ini berarti potensi yang mereka miliki besar, kendatipun masih butuh regulasi. Yang jelas poitensi masyarakat OKI Timur dapat diandalkan karena mereka telah belajar banyak dari "Biduk"