Showing posts with label Warisan Budaya. Show all posts
Showing posts with label Warisan Budaya. Show all posts

Thursday, November 26, 2015

Gadis Mari'ah Dari Lamban Gedung Skala Brak.

Akrualisasi Lamban Gedung Pekon Balak itu sudah lama terjadi, di masa kanak kanak saya saja, sekitar tahun 60-an kami disuguhi upaya aktualisasi itu melalui pembentukan tokoh. Terciptanya syair lagu (Lampung : Pattun/Pantun/Segata) Tamong Roai yang ternyata mirip sekali dengan dengan syair 'Gamolan Sakti' ciptaan Hasyimkan Gamol, itu menunjuukkan kegigihan upaya aktualisasi Lamban Gedung, Lamban Gedung   diharapkan akan menjadi Lambang persatuan komunitas ini. Dengan demikian maka wajar saja bila seandainya upaya aktualisasi itu juga dilakukan oleh Pangeran Edwardsyah Prenong sebagai pewaris tahta kedatan di lingkungan Adat Skala Brak.

Secara kebetulan saya sebaya dengan sosok 'Roaini' yang terlahir dari keluarga, tepatnya cucu dari 'Mari'ah' yaitu seorang yang sempat tinggal di Lamban Gedung sebelum Ia disunting oleh seorang pria yang bernama M.Umat. Disuntingnya seorang gadis manis yang bernama Mari'ah  yang berasal dari Lamban Gedung itu tentu saja disambut dengan sebuah lagu / pantun yang sangat memuliakan, tak terhitung berulangkali lagu ini dinyanyikan sehingga dihapa oleh laki laki-erempuan, tua-muda, dewasa dan anak anak, syairnya berbunysi  yaitu :

Nak Niknak Niknak Ning Kung
Gamolan Haji Zamar 
Wat Mulli jak Gedung 
Kebayan Ni Mat Umar 

Wednesday, November 13, 2013

Upaya Memahami Pesan Filosofis Musik Cetik

Gamol Pering Penuh Pesan Moral.

Apa yang dilakukan oleh I Wayan Sumerta Dana Arta terhadap musik gamol pering 'Cetik' sangatlah besarnya. Pesan musik yang ditangkap dengan Solmisasi Laras nada cetikakhirnya mampu diterima oleh para seniman di Fakultas dan Akademi Seni. Memang seni harus disampaikan dengan bahasa bahasa seni, sementara bahasa seni adalah bahasa yang paling mudah diaksep bukan saja bagi seniman, bahkan orang awam penikmat senipun akan mampu menangkapnya. Tetapi itu saja tentu belumlah utuh, tampa memahami pesan filosofis seni tersebut. Tulisan singkat ini adalah upaya secara awam untuk memahami pesan filosofis sebi cetik.
Cetik yang merupakan musik instrumen itu tentu saja memiliki pesan pesan tertentu, dahulu cetik lazim ditabuh dikeheningan malam. Penabuh cetik bukan hanya sekedar menabuh tetapi memiliki makna dan pesan bahkan pesan itu tidak jarang ditujukan kepada orang tertentu.
Dalam musik cetik ukuran kebagusannya mirip semerti kita mengagunmi kuntum  bunga, kita akan terkagum kagum manakala ada bunga plastik yang mirip sekali dengan bunga aslinya. demikian juga kita akan kagum dengan bunga asli yang demikian sempurna sehingga mirip plastik yang direkayasa.
Musik cetik juga demikian. Sejatinya pesan aslinya disampaikan dalam bentuk wayak wayak, tetapi oleh masyarakat sekitar Lampung Barat dari mana musik cetik berasal, wayak itu dapat juga diekspressikan dengan siulan, dan bahkan gemuruhnya suara cetik akan menjadi seni yang sangat dikagumi bila semakin mirip dengan jeritan wayak, yang semakin jelas lagi manakala tabuhan cetik mampu mengekspressikani isakan tangis 'ngehahedo'.

Untuk memahami filosofi dan pesan pesan yang terkandung dalam wayak Wayak itu maka akan dengan mudah kita juga akan menangkap pesan filosofis cetik, karena cetik ini adalah upaya menyampaikan sair wayak secara instrumentalia. Dalam kesempatan ini juga saya secara pribadi ingin menyampaikan terima kasih kepada sdr Wayan, yang sudah lama kali kita tyak sua.

Sunday, January 23, 2011

Pengakuan Warisan Budaya Bisa Dicabut

Jakarta, kompas - Pengakuan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa terhadap warisan budaya Indonesia bisa dicabut. Itu terjadi jika Indonesia tidak mampu melestarikan dan mengembangkannya dengan baik.

Indonesia mendapat pengakuan dari UNESCO untuk warisan budaya tak benda, yakni wayang, keris, batik, dan angklung.

”Dalam waktu empat tahun setelah pengakuan, UNESCO akan melihat keseriusan kita melestarikan kebudayaan warisan dunia benda dan tak benda yang ada di Tanah Air. Jika tak bisa melestarikan dan mengembangkannya, pengakuan itu bisa dicabut,” kata mantan Duta Besar Indonesia untuk UNESCO Tresna Dermawan Kunaefi yang hadir dalam acara pertemuan Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO dengan mitra kerjanya dari sejumlah kementerian dan lembaga negara di Jakarta, Rabu (19/1).

Pada kesempatan itu, Tresna juga menyerahkan sertifikat pengakuan UNESCO terhadap angklung Indonesia yang masuk dalam warisan budaya tak benda (representative list of the intangible cultural heritage of humanity) pada November 2010. Sertifikat diterima Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh yang disaksikan antara lain Taufik Hidayat Udjo, CEO Saung Angklung Udjo.

Hadir pula pada acara tersebut Menteri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta, Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, serta Menteri Riset dan Teknologi Suharna Surapranata.

Menurut Tresna, pengakuan UNESCO yang sudah diterima Indonesia mesti memberi manfaat. Yang utama memang untuk pelestarian. Namun tidak kalah penting, pengakuan itu mesti bisa mendatangkan manfaat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Arief Rachman, Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, menambahkan, pengakuan UNESCO diberikan karena Indonesia mampu meyakinkan tindak lanjut untuk pelestariannya. ”Jadi, kita harus betul-betul menindaklanjuti pengakuan UNESCO tersebut,” ujar Arief.

Menurut Arief, pengakuan UNESCO mesti mendorong adanya penelitian ilmiah yang semakin mendalam soal budaya yang diakui tersebut. Untuk itu, peran perguruan tinggi dan ahli dalam bidang tersebut dibutuhkan untuk bisa mengembangkan penelitian ilmiah yang mendukung pelestariannya.

Selain itu, Indonesia juga mesti mampu menyediakan literatur yang semakin banyak. Pengembangan kapasitas sumber daya manusia dan lembaga dalam bidang yang diakui UNESCO juga mesti dikembangkan. (ELN)

Sumber: Kompas, Kamis, 20 Januari 2011