Sunday, November 22, 2015

Tamong Ni Roai ... !?

Sewaktu saya masih balita dahulu bujang ataupun gadis di desa saya Pagelaran Kabupaten Pringsewu dari kelompok komunitas asal Lampung Barat sering menyanyikan pantun dengan syair seperti ini :
Nak ...Ninak ...Ninak ... Ning Kung 
Gamolan Haji Suhai ...
Wat mulli jak Gedung 
Yaddo Tamong ni Roai. 
Sair pantun itu sangat melekat di ingatan saya karena kebetulan yang disebut Roai adalah Roaini anak tetangga yang usianya lebih kurang masih sebaya, terusik juga pertanyaan pada waktu itu mengapa temanku yang lain tak dilagukan oleh mereka mereka itu, pertanyaan ini kutelan sendiri hingga meliwati masa remajaku, dan aku muali berani menduga duga.


-
Menyimak nada dan syair Gamolan Sakti Hasyim Gamol seperti apa yang sebarkannya melalui You Tubenya ini, tak terhindarkan saya terperanjat juga. Lagu yang saya kenal sebagai Tamongnya Roi itu sama persis dengan lagunya Hasyimkan  Gamol.

Memang Syair Tamong Ni Roi 

Sunday, November 8, 2015

Antisipasi Konflik Dengan Anjau Silau


Oleh Edward Syah Pernong

SAYA duga banyak warga Lampung yang tidak mengenal anjau silau. Bahkan, mendengar istilahnya pun mereka belum pernah. Karena itu, saya akan meringkas makna filsafat sosial Lampung ini, yang sesungguhnya merupakan kearifan lokal yang sangat bernilai, khususnya dalam mengantisipasi dan meredam konflik sosial, horizontal maupun vertikal.

Dari segisemantik, anjau silau berarti “berkunjung untuk menjenguk”. Jika seseorang melakukan anjau silau kepada kerabatnya, berarti dia mengunjungi untuk menjenguk kondisi tuan rumah. Sudah tentu dalam pertemuan itu terjadi saling tukar kabar dan gagasan tentang berbagai masalah. Jadi, unsur silaturahmi sangat kental di dalamnya, meski anjau silau dapat mengandung tujuan yang lebih spesifik.

Hemat saya, kearifan sosial dari adat istiadat kita sendiri ini akan mampu meminimalkan potensi konflik secara efektif. Saya sebut meminimalkan dan bukan menihilkan, karena kita perlu realistis bahwa selama ada masyarakat manusia, perbenturan di antara para anggota masyarakat itu tidak mungkin nol.

Peluang perbenturan itu makin besar seiring kian kompleksnya struktur sosial karena berbagai pengaruh politik, budaya, ekonomi, dan sebagainya. Masyarakat modern juga mengalami apa yang disebut para ahli sosiologi sebagai diferensiasi sosial, yaitu makin bervariasinya profesi dan cara orang mencari nafkah; dan seiring dengan itu kian beragam pula gaya hidup mereka.

Korban Pertama

Saturday, August 29, 2015

Lampung Post Award untuk Hilman Hadikusuma


MESKI telah tiada, almarhum Hilman Hadikusuma terus memberi sumbangsih bagi Lampung dan Indonesia melalui pemikirannya. Menjadi profesor pertama di Universitas Lampung, Hilman menjadi sosok profesor hukum adat yang melegenda. Nyaris seluruh literatur hukum adat yang digunakan di hampir semua fakultas hukum di Tanah Air, hinggab kini memakai buku karangannya.

Pria kelahiran, Kotabumi, Lampung Utara, 9 Juli 1927 dan wafat pada 30 Agustus 2006 silam dalam usia 79 tahun ini menjadi tokoh Kamis (27/8) malam dianugrahi Lampung Post Award dalam puncak perayaan HUT ke-41 Lampung Post di Hotel Novotel Bandar Lampung. Bentuk apresiasi dan penghargaan Lampung Post pada sang profesor hukum adat yang turut membesarkan nama Lampung.