Sunday, November 8, 2015

Antisipasi Konflik Dengan Anjau Silau


Oleh Edward Syah Pernong

SAYA duga banyak warga Lampung yang tidak mengenal anjau silau. Bahkan, mendengar istilahnya pun mereka belum pernah. Karena itu, saya akan meringkas makna filsafat sosial Lampung ini, yang sesungguhnya merupakan kearifan lokal yang sangat bernilai, khususnya dalam mengantisipasi dan meredam konflik sosial, horizontal maupun vertikal.

Dari segisemantik, anjau silau berarti “berkunjung untuk menjenguk”. Jika seseorang melakukan anjau silau kepada kerabatnya, berarti dia mengunjungi untuk menjenguk kondisi tuan rumah. Sudah tentu dalam pertemuan itu terjadi saling tukar kabar dan gagasan tentang berbagai masalah. Jadi, unsur silaturahmi sangat kental di dalamnya, meski anjau silau dapat mengandung tujuan yang lebih spesifik.

Hemat saya, kearifan sosial dari adat istiadat kita sendiri ini akan mampu meminimalkan potensi konflik secara efektif. Saya sebut meminimalkan dan bukan menihilkan, karena kita perlu realistis bahwa selama ada masyarakat manusia, perbenturan di antara para anggota masyarakat itu tidak mungkin nol.

Peluang perbenturan itu makin besar seiring kian kompleksnya struktur sosial karena berbagai pengaruh politik, budaya, ekonomi, dan sebagainya. Masyarakat modern juga mengalami apa yang disebut para ahli sosiologi sebagai diferensiasi sosial, yaitu makin bervariasinya profesi dan cara orang mencari nafkah; dan seiring dengan itu kian beragam pula gaya hidup mereka.

Korban Pertama

Saturday, August 29, 2015

Lampung Post Award untuk Hilman Hadikusuma


MESKI telah tiada, almarhum Hilman Hadikusuma terus memberi sumbangsih bagi Lampung dan Indonesia melalui pemikirannya. Menjadi profesor pertama di Universitas Lampung, Hilman menjadi sosok profesor hukum adat yang melegenda. Nyaris seluruh literatur hukum adat yang digunakan di hampir semua fakultas hukum di Tanah Air, hinggab kini memakai buku karangannya.

Pria kelahiran, Kotabumi, Lampung Utara, 9 Juli 1927 dan wafat pada 30 Agustus 2006 silam dalam usia 79 tahun ini menjadi tokoh Kamis (27/8) malam dianugrahi Lampung Post Award dalam puncak perayaan HUT ke-41 Lampung Post di Hotel Novotel Bandar Lampung. Bentuk apresiasi dan penghargaan Lampung Post pada sang profesor hukum adat yang turut membesarkan nama Lampung.

Saturday, June 27, 2015

Bahasa, Seni, Produksi dan Filsafat.

Inbox melalui acun facebook, pemebritahuan serta permohonan dukungan untuk diselenggarakannya Kongres Bahasa Lampung, semula saya tulis butuh persiapan, rupanya sipengirim tak puas dngan jawaban itu, dikirim sekali lagi dengan dua macam gambar. Gambar pertama foto yang nampaknya gambar manusia. dan gambar kedua adalah gambar tangan dengan acungan jempol. Paham saya si pengirim tentu berharap saya memilih gambar kedua, yang artinya mendukung. Yang memang sebelumnya  telah diberikan contoh dukungan serta janji sipendukung untuk siap berpartisipasi. Mungkin kesiapan untuk partisipasi sangat dibutuhkan sipenggagas untuk memperkokoh proposalnya. Dan sayapun menuliskan balasan dengan kata kata "Tertarik".

Sejatinya saya sangat tertarik dngan gagasan Kongres Bahasa Lampung itu, tetapi bagi saya yang paling penting adalah dampak positif dari pelaksanaan kongres, yaitu perubahan minset masyarakat Lampung. Persoalan yang menerpa bahasa Lampung adalah semakin sedikitnya jumlah penutur bahasa Lampung. yang paling utama adalah karena jumlah komunitas pengguna bahasa Lampung memang sedikit, ditambah lagi dengan sedikitnya masalah yang telah dijelaskan dengan menggunakan bahasa Lampung.

Saya pernah ikut menggagas adanya bahasa persatuan di Lampung, tetapi gagasan itu hanya bersifat lntaran ide saja, namun ternyata respon cukup deras, dalam bentuk penolakan. Sama dengan gagasan saya untuk penajaman Falsafah Lampung Piil Pesenggiri juga kurang mendapatkan respon positif justeru dari pihak yang sejatinya memiliki komitmen kuat terhadap keoada pemikiran filosofis Piil apalagi  yang bersangkutan didaulat sebagai pakar bahasa Lampung. Baginya Falsafah lampung itu tak lebih dari kirotoboso dalam bahasa Jawa, suatu hal yang saya tak pernah lupa dengan perumpamaan yang disebutnya yaitu nama binatang "Kodok", disebut kodok karena 'Teko Teko Langsung Ndodok', bagaimana mungkin sang pakar akan membangun bahasa tampa filsafat, karena puncak belajkar bahasa adalah belajar falsafahnya. 

Judul tulisan ini adalah Bahasa, Seni, Produksi dan Filsafat.