Tuesday, December 9, 2014

Piil Pesenggiri Itu Fastabiqul Khairot


Bambang Eka Wijaya
IPPPL--Ikatan Pensiunan Pendidik Provinsi Lampung--di akun facebook Fachruddin Dani mencanangkan Kampanye Hidup Berniaga bagi Generasi yang Akan Datang, Minggu (30-11). Materi kampanye tersebut dirangkai dalam kearifan lokal Lampung, Piil Pesenggiri. Melalui pemaknaan khas, Piil Pesenggiri diartikan Prinsip Fastabiqul Khairat--berlomba (bersaing) dalam kebaikan. Arti lomba itu dibuat menonjol dalam uraian unsur-unsurnya. 

(1) Nemui nyimah, yang arti harfiahnya bertemu dengan kesantunan, dimaknai untuk santun orang harus produktif dalam bidangnya, maka operasional pertemuan dan kesantunan adalah produktif.(2) Nengah nyappur, yang berarti tampil terampil, operasionalnya kompetitif. (3) Sakai Sembayan, yang berarti terbuka, siap menerima siap memberi, operasionalnya kooperatif. Dan (4) Juluk Adek yang berarti nama juluk dan gelar adat, atau selalu mendapat nama baru, operasionalnya inovatif.

Demikianlah, semangat berniaga pada generasi mendatang ditumbuhkan dengan kearifan lokal Piil Pesenggiri sebagai pandangan hidup siap bersaing dalam kebaikan, didasarkan pada sikap dan perilaku berjiwa produktif, kompetitif, kooperatif, dan inovatif. 

 Kearifan lokal yang diformat khas dalam semangat kewirausahaan itu tahap awal dikampanyekan di kalangan guru SD, guna selanjutnya ditanamkan ke murid SD--mengacu ke Rasulullah Muhammad SAW yang belajar bisnis sejak usianya belia. 

 Menanamkan semangat berniaga dalam kecerdesan spiritual begitu jelas amat tepat, karena berniaga dalam terminologi Fastabiqul Khairat maknanya luas sekali sebagai usaha, mewujudkan hakikat pendidikan untuk mencapai kebahagiaan dunia-akhirat! 

Berniaga dengan kapasitas produktif, kompetitif, kooperatif, dan inovatif itu pun merupakan spiritualitas bagi generasi muda untuk bangkit dan unggul di masa depan. Untuk mencapai hasil maksimal kampanye tersebut, lebih baik lagi jika IPPPL bisa menyusun ajaran kearifan lokal berniaga tersebut dalam buku pelajaran yang sistematis, untuk selanjutnya diusulkan sebagai mata pelajaran muatan lokal di sekolah-sekolah dalam wilayah Provinsi Lampung. 

 Sistematis dimaksud, sekali jalan buku itu memberi pemahaman tentang filsafat hidup orang Lampung Piil Pesenggiri, sekaligus menanamkan religiositas Fastabiqul Khairat dalam berniaga mencapai kesejahteraan hidup baik di dunia maupun di akhirat! ***

Monday, December 8, 2014

Kampanye Hidup Berniaga dengan Piil Pesenggiri

Piil Pesenggiri Dibuang Sayang, falsafah yang sangat bernilai ini sepertinya banyak dipandang sebelah mata oleh para budayawan Lampung, saya sempat dikejutkan oleh sikap seortang pakar bahasa Lampung yang menyamakan Piil Pesenggiri dengan Kirotoboso, karena beliau mengatakan bahwa Piil Pesenggiri itu seperti istilah "Kodok" teko teko ndodok. Kalau saja ucapan itu bukan diucapkan oleh pakar bahasa Lampung dalam seminar budaya pula, maka saya tidak akan sekecewa itu. Diluar dugaan saya ketika kami mengajukan Proposal bantuan biaya bagi penyelenggaraan pelatihan sosialisasi Karakter Bangsa, ternyata pihak Dinas Pendidikan Provinsi Lampung meminta kami mengkampanyekan pentingnya Falsafah Lampung Piil Pesenggiri.

Dengan demikian kamipun menggabungkan program unggulan kami yaitu kampanye hidup berniaga bagi generasi yang akan datang, tentu saja dengan piil Pesenggiri. Maka terselenggaralah itu pada tanggal 30 November 2014 yang lalu. Tidak kurang dari 40 orang peserta yang kami undang alhamdulillah seluruhnya hadir dan mengikuti acara hingga selesai. Mdereka adalah siswa SD/MI, SMP/MTs, guru olahraga, guru Pendidikan Agama  Islam (PAI) Pengawas, Karyawan Dinas Pendidikan dan Provinsi Lampung dan Kota Bandar Lampung. Walaupun itu hanya bersifat sosialisasi, tetapi ternyata para peserta menyampaikan ketertarikannya dan berjanji akan menindaklanjutinya di sekolah masing masing.

Kami menganggap sangat tepat menggabungkan Falsafah Piil Pesenggiri dengan Kampanye Hidup berniaga, karena konten Piil Pesenggiri bila dipandang dari sisi tertentu justeru sarat bermakna niaga. Lihat saja unsur unsur Piil Pesenggiri yang terdiri dari Nemui-Nyimah yang operasionalnya adalah produktif, nengah nyappur yang dalam operasionalnya kompetitif, sakai sambaian yang dalam operasionalnya membutuhkan kooperatif, serta juluk adek yang dalam operasionalnya membutuhkan inovatif.

Beranjak dari sana maka Piil Pesenggiri dicanangkan sebagai bahan kampanye dari kami yang tergabung dalam kelompok Diskusi Ikatan Pensiunan Pendidik Provinsi Lampung. Namun tentu saja karena sekolah juga membutuhkan berbagai kegiatan terkait dengan kegiatan belajar dan mengajar atasu proses pembelajaran di sekolah maka kegiatan ini dirancang sedemikian rupa dengan melibatkan guru mata pelajaran, dan guru yang terpilih untuk sementara ini adalah guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Guru Pendidikan Olahraga/ Kesehatan.

Dengan semangat Pesenggiri yaitu produktif, kompetitif, kooperatif dan inovatif Guru PAI menyelenggarakan Gerakan Amal Sholeh, mulai dari membina hubungan baik dengan orangtua, Kepala Sekolah, para guru, famili, masyarakat, teman main, teman sekolah, teman sekelas serta, memilihara sholat lima waktu, sholat lain dan sholat dhuha serta  mengeluarkan sedekah. Sementara Guru Pendidikan Olahraga dan Kesehatan mengupayakan penerapan Brain Gym guna mengatasi keslitan siswa dalam belajar. Itu semua dilakukan dalam semangat Piil Pesenggiri, yaitu semangat produkttif, kompetitif, kooperatif dan inovatif. 

Ini sekedar sosialisasi yang hanya dilaksanakan satu hari, oleh karenanya maka apa yang dikampanyekan ini harus ditindaklanjuti di sekolah sekolah, ada yang diprtogramkan oleh guru PAI dan ada yang diprogramkan oleh guru Olahraga/ Kesehatan. Tentunya itu semua membutuhkan bantuan dan dorongan dari Kepala Sekolah karena kegiatan ini harus terfasilitasi dan juga melibatkan segenap masyarakat sekolah, utamanya guru guru mata pelajaran lainnya, serta para guru kelas di SD/MI. Dengan semangat Piil Pesenggiri kami yakin program ini berjalan lancar.

Thursday, November 20, 2014

Serasan Sekundang bagi Masyarakat Muara Enim



Pertama saya menjejakkan kaki di bumi Muaraenim mata saya terantuk pada sebuh tulisan besar "Serasan Sekundang", apa terjemahan tulisan  itu tanya  saya kepada driver yang kebetulan putra daerah. kira kira katanya ragu sepakat untuk membawa beban, ucapan itu lirih seperti kurang yakin dengan apa yang dibicarakannya. Dalam bahasa kami katanya lagi kundang itu artinya barang bawaan, katanya seperti meyakinkan.
Kalo gitu sama saja dengan gotong royong tanya saya, Iya pak sama dengan gotong royong katanya mengulangi kata kata saya. Sebagai orang yang pernah tinggal di daerah ini, apakah sering melakukan gotong royong. Dia geleng gelang kepala, lalu berkata dahulu sepertinya saya pernah melihat orang gotong royong membersihkan jalan menuju air tempat kami mandi katanya ragu.

Terlepas dari benar atau tidaknya apa yang dijelaskan oleh temanku itu yang juga sebagai driver di kantor kami, yang saya pahami
adalah bahwa gotongroyong adalah merupakan salah satu atau bagian dari kearifan lokal  daerah muara enim. Bahwa muaraenim berdiri hingga kini dibangun atas semangat kebersamaan  dan segala sesuatunya dilakukan dengan semangat bergotongroyong, ringat sama dijinjing, berat sama dipikul. Semoga saja keterangan dari driver kami itu terlalu jauh meleset.

Tetapi bila kita tilik dari pesatnya pembangunan di Kabupaten ini maka kita yakin bahwa memang masyarakatnya memiliki suatu kekuatan, dan apabila kekuatan ini dapat dimanfaatkan maka laju pembangunan Muaraenim akan pesat. Dan kita yakin sesuatu itu adalah "Serasan Sekundang"